Sejarah

Pasca reformasi, jumlah media di Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, meningkat dengan tajam. Koran-koran, dan radio tumbuh seperti jamur di musim hujan. Demikian pula dengan televisi. Tidak hanya televisi berjaringan nasional, televisi lokal juga mulai bermunculan. Radio-radio yang sebelumnya hanya berisi hiburan ramai-ramai membuat liputan jurnalistik.

Kondisi ini memberi tantangan yang lebih berat pada dunia pers. Pers dihadapkan pada tuntutan agar lebih profesional. Para jurnalis yang berperan sebagai penyampai informasi pada publik harus bisa bekerja secara independen dan mematuhi kode etik jurnalistik.

Selain tuntutan soal profesionalitas, jurnalis di Pontianak juga dihadapkan pada persoalan kesejahteraan. Banyak jurnalis yang masih dibayar di bawah standar. Perusahaan pers masih menggaji para jurnalisnya dengan upah yang sangat rendah. Alhasil, banyak jurnalis yang tidak bisa bekerja secara profesional karena harus mencari “sampingan”.

Saat itu, para jurnalis juga kerap mengalami ancaman atau kekerasan dari pihak-pihak lain. Mereka yang merasa dirugikan atas pemberitaan pers kerap menggunakan cara-cara kekerasan. Tidak sedikit jurnalis yang mengalami ancaman atau mendapat aksi kekerasan dari pihak lain.

Beratnya tantangan pers inilah yang membuat jurnalis muda berkeinginan untuk berhimpun dalam satu wadah bersama. Saat itu, organisasi wartawan di Pontianak hanya didominasi satu organisasi yakni Persatuan Wartawan Indonesia. Sebagian besar jurnalis di Pontianak sudah menginduk di organisasi ini karena tidak ada pilihan lain.

Sebagian jurnalis muda merasa perlu ada satu organisasi baru yang bisa mewadahi mereka secara profesional. Ide ini salah satunya dicetuskan Jannes Eudes Wawa, jurnalis Harian Kompas yang bertugas di Pontianak. Dialah yang kemudian menjadi pioner dalam melahirkan AJI Kota Pontianak.

Menurut Jannes, jurnalis muda di Pontianak butuh penyegaran. Para jurnalis juga harus punya tempat bernaung sehingga bisa sama-sama mendorong peningkatan profesionalitas di kalangan jurnalis di Pontianak.

“Jurnalis di Pontianak butuh tempat bernaung yang secara organisasi lebih sehat. Pilihan kami saat itu adalah membentuk AJI. Kami menilai AJI bisa menjadi tempat bernaung yang lebih pas bagi para jurnalis muda di Pontianak. Bisa dibilang AJI lebih sesuai pada saat itu,” ceritanya.

Dengan berbekal fotokopian Anggaran Dasar dan Rumah Tangga AJI Indonesia, Jannes merancang format organisasi AJI Pontianak. Jannes juga berdikusi dengan beberapa rekannya.

“Untuk awal saya coba rangkul rekan-rekan yang satu pemikiran,” kata Jannes tentang sejarah awal pendirian AJI Pontianak.

Jannes mulai bergerilya, menemui sejumlah jurnalis muda dan menceritakan keinginannya untuk membentuk AJI Pontianak. Urung-rembuk dengan para jurnalis muda pun dihelat di tahun 1999. Bertitik tolak dari semangat kebersamaan itulah, Jannes akhirnya “nekad” mengusulkan pembentukan AJI Kota Pontianak. Masa persiapan pembentukannya berlangsung selama kurun waktu satu tahun.

Jannes bekerja menghimpun sejumlah jurnalis muda yang memiliki kesamaan visi dan ideologi. Pertemuan kecil kerapkali dilakukan di Restoran Galaherang Pontianak. Mereka di antaranya adalah Aju (Sinar Harapan), Nurul Hayat (LKBN Antara), Sahat Oloan Saragih (Suara Pembaruan), Lamhot Sihotang (Majalah Forum Keadilan), Tanto Yakobus (Majalah Gamma), Ganis Sukaryansyah (Pontianak Post), Harry A Daya (Tempo), Mella Danisari (Pontianak Post), Rudi Agus (Metro Pontianak), Bobby Kusumadinata (Pontianak Post), Bambang Bider (Kalimantan Review), dan Yan Andria Soe (SCTV).

Gayung pun bersambut. Tekad dan keinginan keras para jurnalis muda Pontianak itu mendapat respon positif. Pengurus AJI Indonesia, yang saat itu masih dalam bentuk Presidium, menugaskan Ketua Bidang Organisasi, Imron Hasibuan, untuk mengambil langkah-langkah strategis. Dia bertugas memverifikasi dan menilai kinerja tim persiapan pembentukan AJI Kota Pontianak.

Hasilnya, Pengurus AJI Indonesia di bawah kepemimpinan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Didik Supriyanto, mengeluarkan mandat pendirian AJI Kota Pontianak kepada jurnalis Harian Kompas, Jannes Eudes Wawa.

Jannes menerima mandat tersebut pada tahun 2000. Dia segera berkonsolidasi dan menyusun calon pengurus, walau dengan jumlah yang sangat terbatas. Akhirnya, terbentuklah kepengurusan pertama AJI Kota Pontianak di bawah kepemimpinan Jannes.

Sekjen AJI Indonesia, Didik Supriyanto yang melantik kepengurusan ini di Hotel Kapuas Palace Pontianak. Pelantikannya ditandai dengan diskusi tentang kebebasan pers. Hadir sebagai pembicara adalah Dr William Chang, pemerhati masalah sosial. Dia dosen di berbagai perguruan tinggi di Pontianak. Pada 1998, tercatat sebagai Ketua Jurusan Program Pasca-Sarjana STT Pastor Bonus Pontianak. William Chang menyelesaikan Pendidikan S-3 Jurusan Etika Sosial di Universitas Lateran, Roma, Italia, pada 1996.

Kepengurusan AJI Kota Pontianak yang pertama ini berjalan relatif singkat. Hanya sekitar satu tahun. Pada September 2001, manajemen Kompas memindahtugaskan Jannes untuk memperkuat barisan redaksi media itu di Ibukota Jakarta. Dia pun akhirnya hijrah.

Namun, sebelum bertugas di “habitat” barunya, Jannes sadar tantangan pers ke depan di Pontianak kian berat. Dia segera melimpahkan posisi Ketua AJI Kota Pontianak kepada pengurus lainnya untuk kembali berembuk memilih Ketua AJI Kota Pontianak yang baru. Pada tahun 2001 itu juga, Aju (Sinar Harapan) terpilih menjadi Ketua AJI Kota Pontianak hingga 2002.

Kepengurusan di tubuh AJI Kota Pontianak pun terus bergulir. Konferensi AJI Kota Pontianak sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) AJI Indonesia, dihelat sekali dalam tiga tahun. Berikut nama-nama Ketua AJI Kota Pontianak berdasarkan periode kepemimpinannya:
1. Jannes Eudes Wawa (2000-2001) dari Harian Kompas
2. Aju (2001-2002) dari Harian Sinar Harapan
3. Rudi Agus (2002-2005) dari Harian Metro Pontianak
4. Mursalin (2005-2008) dari Harian Pontianak Post
5. Mochamad Aswandi (2008-2011) dari Metro TV
6. Donatus Budiono (2011-2014) dari Harian Pontianak Post
7. Heriyanto Sagiya (2014-2017) dari Harian Pontianak Post
8. Dian Lestari (2017-2020) dari Harian Tribun Pontianak

Konsistensi pergerakan organisasi kian solid, menyusul pembenahan sumberdaya manusia di semua lini. Termasuk peningkatan kapasitas jurnalis. Ini dibuktikan dengan pertumbuhan jumlah anggota dari semula hanya belasan orang, kini menjadi 86 jurnalis yang tersebar di seluruh Kalimantan Barat. ***

Leave a comment

Search

Back to Top